''Jenis lignit itu memiliki kandungan kalori sedang, yakni di bawah 6.000 kalori per gram,'' kata Kepala Bidang Geologi dan Migas Dinas Pertambangan Provinsi Riau, HT Nahar SP MSi, dalam penjelasannya di Pekanbaru, Senin (13/4).
Batubara itu keberadaannya tersebar di enam desa yang ada di tiga kecamatan yakni di Desa Mayang Sari dan Sari Mulya Kecamatan Pangkalan Lesung, serta di Desa Langgam Kecamatan Langgam.
Sedangkan batubara di Desa Air Hitam, Lubuk Kembang Bunga Kecamatan Ukui kemudian di Desa Gondai dan Kecamatan Langgam adalah batubara yang terbaik, yakni jenis high voletile bituminous dengan kandungan kalori di atas 6.000 kalori per gram.
Untuk saat ini batubara jenis lignit ini belum bisa direkomendasikan untuk dieksploitasi, terkait dengan strategi pemanfaatan sumberdaya alam yang mendahulukan potensi batubara terbaik, sementara untuk jenis high voletile bituminous yang memiliki prospek ekonomis dilakukan penambangan.
Sebagai bahan perbandingan, kata Nahar, kualitas batubara yang telah dieksploitasi di Kabupaten Kuantan Singingi adalah dari kelas subbituminous, satu kelas di bawah high voletile bituminous.
''Karena itu, batubara yang tersimpan di wilayah Kabupaten Pelalawan ini memiliki kualitas yang baik dan diharapkan mampu mendatangkan potensi bagi pendapatan asli daerah (PAD),'' katanya.
Pemerintah mengharapkan masyarakat Pelalawan yang di wilayahnya memiliki potensi kekayaan sumber daya alam (SDA) yang besar dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM)-nya. ''Soalnya, SDM yang baik akan memberikan kesempatan bagi mereka untuk ikut andil dalam pengelolaan SDA yang ada,'' ujar Nahar. (Dafri/toeb)(endonesia.com)










0 komentar:
Poskan Komentar